6 Perusahaan ini membangun Data Center Terbesar di Indonesia Tahun 2022

Pertumbuhan data di era pandemi tercatat begitu besar dibandingkan tahun sebelumnya. Dengan banyaknya data yang keluar masuk setiap saat, maka tentu kebutuhan akan data center semakin besar. Hal ini direspon berbagai perusahaan yang melihat hal ini sebagai peluang baru, lalu berlomba-lomba membangun data center. 

Data center sendiri adalah sebuah tempat khusus yang digunakan untuk menampung berbagai data yang keluar masuk sebelum dikirimkan ke masing-masing pengguna. Indonesia sebagai salah satu negara dengan penduduk yang paling banyak di dunia, tentu diharuskan memiliki data center dengan kapasitas yang besar. 

Pertumbuhan Data di Kala Pandemi

Kondisi pandemi yang mewajibkan masyarakat tidak berpergian membuat pertumbuhan data meningkat. Tercatat satu individu saja dapat menghasilkan sekitar 1,7 MB informasi pada setiap detiknya, yang  berarti rata-rata 14 GB setiap harinya.  Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan, sebanyak 78,18% rumah tangga di Indonesia telah menggunakan internet pada 2020. Jumlah itu meningkat 4,43 poin dibandingkan pada tahun sebelumnya yang sebesar 73,75%. 

Peningkatan ini terjadi lantaran banyak aktivitas seperti bekerja, belajar, hingga berbelanja yang menggunakan dilakukan dari rumah via aplikasi digital.  Peningkatan penetrasi internet tersebut sejalan dengan adanya pembatasan aktivitas masyarakat saat pandemi virus corona Covid-19.  Banyaknya lalu lintas data ini tentu memerlukan fasilitas seperti Data Center yang mumpuni agar tidak terjadi bottleneck dalam perjalanannya. 

Kebutuhan akan Data Center Kian Besar

Di Indonesia, data center hadir pertama kali pada 1997 melalui anak usaha Telkom, PT Sigma Cipta Caraka atau Telkomsigma.  Perusahaan ini juga sekaligus menjadi yang pertama menerima sertifikasi Operasi Tier III di ASEAN. Hingga saat ini, Telkomsigma mengendalikan tata kelola untuk 18 internet data center TelkomGroup atau neuCentriX dengan lebih dari 300 pelanggan di berbagai sektor.

Dengan adanya pandemi, tentu kebutuhan akan data Center meningkat drastis. Pada 2016 angkanya mencapai 290.000 meter persegi. Kemudian pada tahun lalu, naik 29% menjadi 375.000 meter persegi. Berdasarkan data Structure Research, proyeksi pertumbuhan data center di Indonesia pada 2020-2025 akan mencapai 23,5% per tahun. Pada 2025, market size-nya akan mencapai US$ 618,6 juta.

Seiring dengan keputusan bank melalui Peraturan Bank Indonesia (BI) Nomor 9/15/PBI/2007 yang menyatakan bahwa , semua bank dan lembaga keuangan harus memiliki mekanisme cadangan melalui Disaster Recovery Center (DRC). Hal ini berguna untuk memulihkan data dan melanjutkan operasi jika terjadi keadaan darurat.

Maka dari itu tidak heran jika kini berbagai perusahaan besar berlomba-lomba untuk membangun data center. Berikut daftar perusahaan yang kini membangun data center terbesar pada tahun 2022 ini.

Telkom HDC

Salah satu data Center yang sedang persiapan adalah Telkom HDC (Hyperscale Data Center). Data center yang berada di atas lahan seluas 65.000 meter ini terletak di Cikarang ini kabarnya menjadi yang terbesar di Indonesia dengan kapasitas hingga 10 ribu rack. Data center ini juga kabarnya menggunakan konsep green data center dan menggunakan daya listrik hingga 75 MW. 

Data center ini sendiri telah seslesai Top-Off pada pertengahan tahun kemarin dan akan segera dioperasikan pada tahun 2022 ini. 

Hal itu memungkinkan Telkom HDC menjadi pilihan utama bagi pelaku usaha di berbagai sektor, seperti keuangan, manufaktur, dan penyedia layanan komputasi awan, baik domestik, maupun asing.

Direktur Network & IT Solution Telkom Herlan Wijanarko mengungkapkan, Telkom HDC memiliki banyak kelebihan sebagai komplek pusat data. Pertama, fasilitas ini terhubung dengan seluruh jaringan milik TelkomGroup yang membuat cakupan kerja pusat data ini menjadi terluas di Indonesia. Kedua, Telkom HDC memiliki fasilitas penunjang berskala internasional, carrier neutral, dan multi-services untuk jaringan penyedia lain.

Penyelesaian pembangunan tahap pertama Telkom HDC pun sudah sesuai target yang telah ditentukan sejak awal. Komplek Telkom HDC dibangun dengan konsep evolve, connected, and origin (ECO).

Data Center PT DCI Indonesia

PT DCI Indonesia Tbk (DCII) merupakan perusahaan Data Center yang telah melantai di Bursa Saham sejak awal tahun 2021. Perusahaan yang dimiliki oleh Salim Group ini telah membangun data center di Kawasan Pertiwi Lestari Industrial Estate, Karawang, Jawa Barat dengan area seluas 86 hektar.

Topping off gedung 10 lantai  dengan kapasitas 3000 rack yang dinamakan H2-01 ini telah dilakukan pada Juni 2021. Sementara itu, pembangunan gedung sudah dimulai sejak kuartal IV-2020. Kompleks hyperscale data center H2 dibangun dengan latar belakang tersebut dengan prinsip eco-sustainable, akan memasang solar panel power sebagai salah satu sumber listrik di kawasan data center. Pengembangan data center ini diharapkan bisa berdampak positif bagi percepatan digitalisasi di Indonesia. 

Menurutnya H2 didesain dengan standar internasional untuk menjadi salah satu pemain global. diklaim  data center itu dioperasikan dengan menggunakan energi terbarukan dari solar panel farm di area yang sama, sehingga lebih ramah lingkungan.

Selain di Karawang, lokasi data center yang dimiliki oleh PT. DCII juga  berada di Cibitung dengan kualitas operasional yang tidak jauh berbeda. Perseroan rencananya akan menggunakan renewable energy dalam mengoperasikan seluruh kegiatan data centernya.

H2 dan Grup Salim berkomitmen untuk memastikan skalabilitas layanan selalu terjaga dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Saat ini H2 telah menggandeng tiga provider jaringan yaitu Indonet, Matrix NAP Info, dan TransIndonesia Network.

NTT Communications

Perusahaan telekomunikasi asal Jepang ini bangun data center di Cikarang yang akan dibuka awal tahun 2021. Data center ini diberi nama Jakarta3 DC yang diklaim mampung menampung hingga 18,000 meter persegi ruang TI dan memuat TI hingga 45 MW.

Jakarta3 DC merupakan salah satu data center terbesar di Indonesia yang menawarkan layanan hybrid yang tidak hanya terhubung ke jaringan tertutup/layanan cloud pribadi tetapi juga terhubung ke layanan cloud publik. Lokasi lain yang dinamakan Jakarta2 DC juga telah tersedia di Indonesia.

Data center Greenland Kota Deltamas

Sementara itu, di sektor properti, tercatat pengembang kawasan berbasis industri Kota Deltamas, PT Puradelta LestariTbk (DMAS) mengaku telah mendapat permintaan lahan industri yang cukup luas, yakni sebesar 70 hektare (Ha).

Setengah dari permintaan lahan industri tersebut berasal dari sektor industri data center. DMAS pun saat ini tengah membangun fasilitas data center secara khusus, dibuktikan lewat perjanjian kerja sama dengan PT Perusahaan Listrik Negara (Persero) atas pemasangan listrik sebesar 993 MV. Pasokan listrik ini untuk ditujukan mensupplay kebutuhan para pemain data center.

DMAS juga tengah mengembangkan sebuah zona industribernama Greenland International Industrian Center (GIIC) Kota Deltamas. Kawasan ini dilengkapi dengan fasilitasdan  infrastruktur khusus, untuk mengantisipasi permintaan lahan dari industri yang membutuhkan teknologi terkini. Dalam kawasan tersebut, terdapat kurang lebih 150 tenant dari berbagai sektor industri, seperti Kalbe, Astra Honda Motor, Mitsubishi Motors, Hyundai Motors, dan Suzuki.

Ciputra Data Center

Perusahaan properti selanjutnya yang kepincut adalah PT Ciputra Development Tbk (CTRA). Di luar bisnis real estat dan properti, perseroan saat ini tengah menjajaki mitra strategis untuk terjun ke bisnis data center.

Kendati tak menyebut secara detail, Direktur Utama CTRA Candra Ciputra mengatakan, pihaknya sudah berembug dengan perusahaan operator data center, baik lokal maupun internasional. Namun, target pembangunan dan nilai investasi belum diketahui.

Data Center BSD City

Kemudian, potensi bisnis data center juga diambil oleh PT Bumi Serpong Damai Tbk (BSDE). Berencana untuk ekspansi, perseroan mengaku masih memproses kajian dan review.

Emiten properti bagian dari Sinar Mas Land ini akan menggarap ekosistem digital, salah satunya di area BSD City. Proyek tersebut diharapkan bisa menjadi arena kawasan Digital Hub, dengan fasilitas dan infrastruktur meliputi koneksi kabel optik, urban forest, dan konektivitas antarbangunan.

Kawasan yang terhubung dengan Green Office Park ini dikembangkan untuk mengakomodasi tenant digital industri 4.0. Adapun targetnya adalah para pelaku startup maupun perusahaan teknologi multinasional, dan ventura.

Hingga saat ini, di BSD Green Office Park Colony sudah ditempati oleh perusahaan-perusahaan terkemuka, seperti Unilever, Traveloka, Go Work, dan lain-lain. Selain itu, ada sejumlah bank seperti PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, Bank Sinarmas, dan CIMB Niaga. Adapun perusahaan edukasi multinasional, seperti Apple Academy, AWS Academy, Monash University, dan MyRepublic.

Terbaru, emiten properti PT Repower Asia Indonesia Tbk (REAL) juga merambah ke bisnis data center. Peluang dalam rangka menyambut boomingnya bisnis digital ini dilakukan dengan mengkonversi aset gedung perkantoran yang dimiliki REAL di wilayah Jakarta dan sekitarnya

Data Center Multipolar

Emiten Grup Lippo, PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) melalui anak usahanya PT Graha Teknologi Nusantara (GTN) juga menilai bisnis data center semakin prospektif. Presiden Direktur PT Multipolar Technology Tbk, Wahyudi Chandra menyebutkan, Indonesia adalah pangsa pasar yang besar dan sangat penting di kawasan Asia Tenggara. 

Saat ini GTN memiliki satu  data center rated 3 berstandar kualitas Jepang dengan tujuh layer keamanan yang berlokasi di kawasan bisnis premium Lippo Cikarang. “GTN memiliki total lahan seluas 1,5 ha. Kami akan bangun data center kedua,” urai dia 

Membutuhkan berbagai infrastruktur untuk kebutuhan data center perusahaan Anda? Hubungi Sales kami di ilogo.co.id

Share:

Share on facebook
Facebook
Share on twitter
Twitter
Share on pinterest
Pinterest
Share on linkedin
LinkedIn