Skip to content
Contact & Support
  • Solutions & Services
  • Industries
  • Our Technology
  • Blog

Category: Blog

November 11, 2020October 18, 2024

Bagaimana Cara Menjaga Data dari Bencana Alam

Musim hujan telah tiba dan adanya kemungkinan bencana alam, sangat penting bagi perusahaan untuk memprioritaskan rencana penanggulangan bencana. Perusahaan yang gagal membuat rencana penanggulangan untuk peralatan elektronik/TI dan data penting mereka, akan dipastikan mengalami kerugian finansial yang serius ketika terjadi keadaan darurat. Pada tahun 2018, IDC (international data corporation) sebuah firma analisa data kenamaan dunia memberikan laporan berjudul “The State of IT Resilience” atau laporan terkini mengenai ketahanan IT. Pada dasarnya isi laporan itu memperingatkan pebisnis untuk tidak jatuh ke dalam jebakan yang menjerat banyak perusahaan setiap tahun saat keadaan darurat terjadi. Perusahaan-perusahaan ini memandang kesiapan pemulihan bencana atau Disaster Recovery (DR) sebagai asuransi dan biaya tambahan yang kemungkinan besar akan tidak begitu berguna. Pendekatan pemulihan bencana itu sudah tidak memadai untuk bisnis digital saat ini. Laporan tersebut menjelaskan bahwa, jika alat dan inisiatif disaster recovery (DR) dipandang sebagai pemborosan dan bukan sebagai pendorong bisnis. Dengan demikian, cloud dan transformasi digital (DX) organisasi akan mengalami tingkat kegagalan yang lebih tinggi. Penelitian lain juga memperkirakan bahwa sebanyak setengah dari semua organisasi tidak dapat bertahan dalam bencana. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa banyak bisnis tidak melindungi datanya dengan benar, tidak menguji lingkungan mereka untuk disaster recovery, atau bahkan tidak menerapkan proses disaster recovery otomatis. Caroline Seymour, Vice President pemasaran produk di Zerto, mengatakan kepada TechNewsWorld, “Setelah tahun 2020 yang sudah penuh tekanan karena pandemi COVID-19, para ahli cuaca memperkirakan jumlah badai di atas rata-rata musim ini. Sayangnya, banyak bisnis mungkin tidak siap menghadapi badai tersebut dan dapat mengalami kehilangan data permanen jika mereka tidak mempersiapkan dengan baik dari perspektif TI.” Untuk menghindari jatuhnya korban, Ia merekomendasikan untuk mempertahankan operasional bisnis yang penting, menjaga data yang berharga dan memastikan ketahanan TI dengan memiliki disaster recovery yang memadai di tempat yang terdampak dengan cepat. Selain menerapkan dan menguji teknologi pemulihan bencana berbasis cloud, tim TI perlu mempraktikkan rencana disaster recovery (DR) mereka untuk memahami apa yang berfungsi dengan baik dan di mana ada peluang untuk peningkatan, kata Seymour. Konsekuensi dari Ketidaksiapan Ketahanan TI – penting untuk disaster recovery – dapat diukur dari kemampuan organisasi untuk melindungi data selama peristiwa mengganggu yang direncanakan, bereaksi secara efektif terhadap peristiwa yang tidak direncanakan, dan mempercepat inisiatif bisnis yang berorientasi pada data. Ini mencakup pemulihan bencana tradisional dan alat cadangan, juga menggabungkan analisa canggih dan kemampuan keamanan yang diperlukan untuk kesuksesan bisnis digital apa pun di abad ke-21. Penelitian IDC menemukan bahwa banyak organisasi melihat bentuk gangguan baru, seperti ransomware, menyebabkan downtime yang cukup besar. Berikut adalah beberapa temuan penting dari penelitian pemulihan bencana IDC: Lebih dari separuh responden saat ini melakukan proyek TI atau transformasi digital dan melihat ketahanan TI sebagai fondasi. Tetapi beberapa responden percaya bahwa strategi ketahanan TI mereka telah dioptimalkan. Sebagian besar organisasi yang disurvei pernah mengalami gangguan bisnis terkait teknologi. Situasi ini mengakibatkan dampak material baik dalam hal biaya pemulihan atau tambahan jam kerja staf, hilangnya pendapatan secara langsung, hilangnya data secara permanen, atau rusaknya reputasi perusahaan. Perlindungan data atau Data Protection (DP) dan pemulihan bencana (DR) adalah prinsip sentral dari inisiatif transformasi digital tetapi mungkin tidak diprioritaskan oleh banyak organisasi. Hanya setengah dari semua aplikasi yang sepenuhnya dicakup oleh strategi DR. Ini menunjukkan terputusnya hubungan di tingkat strategi bisnis mengenai pentingnya perlindungan data dan pemulihan data untuk inisiatif organisasi. Banyak yang Bisa Salah Riset tersebut menemukan bahwa banyak perusahaan bergumul dengan biaya, kompleksitas, dan pengaturan solusi perlindungan data dan pemulihan bencana mereka. Hampir setengah dari responden (45 persen) melaporkan tantangan dengan pemulihan atau keandalan cadangan. Kompleksitas proses pencadangan dan pemulihan juga menjadi tantangan utama bagi 43 persen perusahaan. Faktor-faktor ini memiliki kemungkinan tinggi untuk menunda atau mengganggu inisiatif transformasi TI. Proses kompleksitas itu mendorong sekitar 90 persen dari perusahaan yang berpartisipasi untuk mengejar konvergensi cadangan dan alat DR saat mereka menghilangkan alat yang berlebihan. Hal ini menunjukkan bahwa pengguna semakin melihat fungsi cadangan dan DR bukan sebagai produk tertutup namun sebagai aset pelengkap dari satu-satunya solusi. Peneliti percaya bahwa praktik terbaik untuk pemulihan data perusahaan adalah dengan mendefinisikan arti ketahanan IT di organisasi mereka dan mengembangkan rencana untuk implementasi. Definisi tersebut harus dimulai dengan elemen inti seperti proteksi data, backup dan pemulihan bencana. Perusahaan juga harus memperhitungkan ancaman keamanan yang muncul dan menangani persyaratan semua aplikasi bisnis. Di mana termasuk server lokal atau berbasis cloud publik. Ini tidak boleh menyertakan solusi ketahanan TI satu ukuran untuk semua. Resep Untuk Pemulihan Kesiapsiagaan bencana yang berhasil memerlukan prioritas dan komunikasi. Jennifer Curry, vice president Global Cloud Services menguraikan tiga cara agar perusahaan dapat melindungi data dan informasi mereka sebelum bencana melanda: Langkah pertama: Identifikasi Resiko Bagi banyak organisasi, kehilangan data dan informasi adalah ancaman terbesar. Mulailah dengan mengidentifikasi di mana data mereka disimpan, jika ada salinannya, dan jika demikian, di mana salinan tersebut disimpan (di tempat atau di lokasi terpisah). “Memiliki semua informasi yang disimpan di satu tempat sangat berisiko karena satu bencana alam dapat menghapus segalanya”, katanya. Langkah Kedua: Pikirkan Tentang Pencadangan Di Luar SitusJika sebuah organisasi menyimpan data secara terpisah dari lokasi utamanya, itu adalah separuh pertempuran.”Untuk lebih melindungi aset mereka, perusahaan harus memilih situs cadangan yang berada di wilayah geografis yang berbeda untuk mengurangi kemungkinan kedua lokasi tersebut akan dilumpuhkan oleh satu bencana,” alasannya. Langkah Tiga: Pertimbangkan Solusi Pemulihan Bencana Banyak perusahaan menggunakan penyimpanan cloud sebagai cadangan karena mudah diskalakan dan hemat biaya. Namun, opsi yang lebih kuat adalah disaster recovery as a service atau pemulihan bencana sebagai layanan (DRaaS). “DRaaS pada dasarnya adalah redundansi fasilitas di infrastruktur perusahaan. DRaaS mereplikasi informasi, aplikasi, dan mission-critical data sehingga perusahaan dapat menjaga kelangsungan bisnis saat terjadi bencana alam,” jelas Curry. “Tim TI akan terikat saat terjadi bencana, dan daripada meminta mereka menangani banyak permintaan dari pemangku kepentingan di seluruh organisasi, mereka lebih berhasil jika mereka memiliki daftar aplikasi yang diprioritaskan,” dia menawarkan. INAP memberitahu klien untuk memastikan kelangsungan bisnis yang komprehensif dikembangkan sebelum peristiwa yang menghancurkan terjadi. Ini juga berfungsi sebagai peluang untuk mengidentifikasi risiko dan kesenjangan yang mungkin sering terlewatkan. Menyeimbangkan Resiko Mengelola kehilangan data adalah kasus pengurangan risiko dan konsekuensi. Risiko tidak bisa dan tidak akan pernah mencapai nol, menurut…

Read More
  • Previous
  • 1
  • …
  • 7
  • 8
  • 9
  • 10

Recent Posts

  • Inovasi Baru Penyimpanan Data: Solusi NVMe Aktif-Aktif untuk Kebutuhan Enterprise Kritis
  • Memahami Perbedaan Cloud Hosting dan Dedicated Server untuk Bisnis Startup
  • Peran AI Observability dalam Mengurangi Risiko Downtime pada Sistem Anda
  • Apa yang Dimaksud dengan Managed Services? Kenali Manfaatnya bagi Bisnis Anda
  • Cara Menentukan Pilihan Storage NAS yang Tepat untuk Kebutuhan Perusahaan Anda

PT. iLogo Infralogy Indonesia is founded base on passion and faith in IT industries. We’ve seen opportunities especially in the world of networking. Our philosophy is based on client needs, and our will to give the best effort in support and services.

Address

  • AKR Tower – 9th Floor Jl. Panjang no. 5, Kebon Jeruk Jakarta Barat 11530 – Indonesia
  • (+62) 21 53660-861
  • sales@ilogo.co.id
  • Mon - Sun / 9:00 AM - 8:00 PM

Follow Us

Linkedin Youtube Phone-square-alt Bullhorn

Copyright© 2020 PT. iLogo Infralogy Indonesia. All Rights Reserved.